fbpx
Pasang iklan

Beras Bulog Terancam Rusak, Berharap Program Rastra Tetap Dilanjutkan?

(Gema – Bone)  Keputusan pemerintah untuk menghentikan program Raskin atau Rastra semenjak 2017 lalu, kemudian digantikan dengan program Bantuan Pangan Non Tunai (BNPT) membuat kini bantuan yang bisa diberikan pada pihak penerima bukan hanya bantuan beras semata.

Pasalnya, para peneriman program BNPT bisa memilih opsi lain selain beras, telur dan gula pasir adalah kebutuhan pangan yang diberikan setiap bulannya pada penerima bantuan.

Hal ini membuat stok beras bulog yang disediakan kini stoknya anjlok dan masih banyak tersedia di gudang semenjak program yang dicanangkan sebelumnya, yakni Rastra tidak lagi diprogramkan.

Seperti yang terjadi di Kantor Seksi Logistik (Kansilog) Bone, kini mereka kesulitan untuk memasarkan beras bulog, tak pelak hal ini bisa membuat kualitas komoditas terancam rusak, karena rata-rata ketahanan beras tersebut hanya berada dalam kisaran satu tahun.

Di sisi lain, pihak perusahaan dituntut aktif untuk membeli beras milik petani. Saat ini stok beras bulog di Kansilog Bone berjumlah 12 ribu ton.

Kepala Kansilog Bone, Faisal mengungkapkan pihak perusahaanya saat ini berada di posisi dilematis, sebab mereka ditargetkan untuk memprioritaskan membeli beras produksi petani langsung. Padahal untuk tahun 2019 sendiri mereka ditargetkan untuk menyiapkan persediaan sebanyak 19 ribu ton. Sedangkan stok beras bulog saja masih ada yang tersisa.

Minimnya penyaluran beras dibandingkan pengadaan diakui membuat stok menumpuk.

“Beras yang ada di gudang terancam tinggal lama. Dengan demikian beras juga terancam rusak,” ungkapnya. “Ke depan kami akan lebih kesulitan untuk menghabiskan stok, karena tahun ini rencana semua daerah tidak lagi berlakukan Rastra. Maka tidak ada lagi peluang untuk memindahkan beras ke Bulog di daerah tetangga,” komentar Faisal terkait peralihan program Rastra ke BNPT yang tidak hanya membagikan beras pada pihak penerima.

Untuk tidak semakin membuat kondisi perusahaan dilematis pihak perusahaan sendiri berinisiatif untuk lebih memilih menyalurkan beras bulog pada Rumah Pangan Kita (RPK) yang memang merupakan mitra Perum Bulog.

Sekarang kami hanya menyalurkan beras untuk Rumah Pangan Kita (RPK). Jumlah RPK yang sudah terbntuk 40 unit sementara yang aktif hanya 20-an unit saja.

Tidak hanya bermitra dengan RPK, mereka juga memilih untuk menawarkan ke pasar-pasar di wilayah perkotaan. Untuk penyaluran ke RPK hanya berkisar 500-1000 kilogram sebab karyawan mereka hanya melayani yang pasti-pasti saja ingin menggunakan beras bulog.

Harapan pihak Kansilog Bone ingin agar program Rastra tetap dilanjutkan, sehingga pemasaran semakin jelas. “Harusnya dikembalikan lagi seperti biasa, beras di Bulog salurkan kepada penerima Rastra. Karena kami disini dituntu aktif menambah stok sementara pemasarannya sulit.

Diakui pula walau beras dilakukan perawatan memang masih bisa tahan tapi akan pasti ada perubahan dan berkurang beratnya jika tidak terdistribusikan.

Alasan pemerintah sendiri membuat Rastra dihentikan, berkaca dari hasil laporan kementerian BUMN yang menyebutkan bahwa BUMN yang mengalami kerugian terbesar pada triwulan I 2017 adalah Perum Bulog dengan kerugian Rp 903 miliar.

Beri tanggapan

Baru ?, Buat akun


Masuk

Lupa password ? (tutup)

Sudah punya akun ?, Masuk


Daftar

(tutup)

Lupa Password

(tutup)