fbpx
Pasang iklan

Bone Darurat Narkoba, Desa Binaan Saja Tak Cukup

Gema.id Sulsel, Bone – Membicarakan narkoba di Kabupaten Bone, membicarakan kondisi “darurat”, membicarakAn peredaran narkoba di wilayah ini, kini sudah masuk dalam zona merah. Peredaran narkoba di Bone semakin banyak terjadi dan perlu upaya lebih untuk menjauhkannya.

Pada tahun 2014 silam berdasarkan rilis, Kabupaten Bone masuk dalam lima besar kota/kabupaten yang begitu tinggi soal peredaran narkoba. Bersama kota/kabupaten lainnya, yakni Makassar, Gowa dan Sidrap. Semuanya memiliki problematika yang sama.

Pererdan narkoba terus menyeruak, berbagai kasus memang telah diungkap dan jumlah pelaku terus bertambah. Berdasarkan data sejak tahun 2015 hingga 2017 pelaku penyalahgunaan narkoba di Kabupaten Bone dari tahun ke tahun mengalami lonjakan.

Pada tahun 2015 pelaku penyalahgunaan obat-obatan terlarang yang ditangani Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Bone bersama Polres Bone (PDF) sebanyak 74 orang. Lalu kembali bertambah di tahun 2016 dengan berhasil mengamankan pelaku sebanyak 84 orang dan lagi-lagi bertambah sebanyak 87 orang di tahun 2017.

Kondisi darurat ini jelas menjadi perhatian lebih oleh badan pemberantas, pemerintah dan instansi terkait untuk menekan hingga menghilangkan peredaran narkoba di Bone, mengingat mereka yang menyalahgunakan obat-obatan bukan hanya dewasa tetapi remaja, generasi muda terhasut untuk menggunakannya.

Hingga kini komitmen untuk menghilangkannya telah lama dibangun oleh Kepala BNN Bone, AKBP Ismail Husen semenjak resmi mengemban jabatan tersebut 31 Juli 2019 silam.

“Ini merupakan motivasi untuk berbuat yang terbaik dalam melaksanakan tugas memberantas peredaran narkoba di Bone ini,” katanya setelah resmi menjabat.

Kota sampai Pelosok Desa Narkoba Merajalela

Sebelum Kepala BNN Bone berganti, Muharram Sahude Kepala BNN Bone sebelumnya merilis pernyataan bahwa hampir seluruh wilayah di Kota Bone menjadi pusat peredaran narkoba.

“Peredaran terbesar narkoba terbesar di [Kabupaten] Bone itu ada di wilayah kota, ujarnya pada 24 Juli 2019 dikutip dari keterangan pers. Alasan yang mendasarinya adalah, melihat dalam kurun waktu empat tahun menjabat kasus penangkapan karena narkoba banyak terjadi di wilayah tersebut.

Tak hanya di kawasan kota, peredaran narkoba di Kabupaten Bone saat ini telah masuk ke wilayah pedesaan/perkampungan. Untuk membarantasinya, BNN Bone telah lama membuat program bernama Puang Wawan (Perancangan Perkampungan Berwawasan Anti Narkoba) untuk wilayah pedesaan yang telah menjadi zona merah peredaran narkoba, yang artinya darurat.

Sejauh ini ada dua kawasan yang dirancang menjadi perkampungan berwawasan anti narkoba (Puang Wawan) yaitu Lacokkong, Keluarahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang dan Desa Uloe Kecamatan Dua Boccoe, menjadi dua kawasan zona merah kawasan marak peredaran narkoba.

Hadirnya program Puang Wawan menjadi salah satu tombak BNN Bone untuk memberantas narkoba di kawasan perkampungan, menciptakan kondisi yang bebas dan memahamai betapa berbahaya zat adiktif ini. Kemudian bagi mereka yang terlanjur menggunakan agar melaporkan diri untuk mendapatkan fasilitas rehab, pemulihan.

Perangkat-perangkat sumber daya manusia juga digerakkan untuk menopang kelancaran program tersebut, di antaranya membentuk Satuan Petugas (Satgas) Pemuda Anti Narkoba, Tokoh Masyarakat Anti Narkoba, DAI’ Anti Narkoba, Majelis Taklim Anti Narkoba dan Sekolah Anti Narkoba.

Satu hal yang perlu dipahami bersama, desa/perkampungan yang masuk dalam binaan ini, merupakan wilayah-wilayah begitu tinggi peredaran narkoba, masuk dalam zona merah kawasan di mana narkoba telah banyak memakan korban.

Perkampungan Anti-narkoba Jebol

Mega proyek BNN Bone serta pemerintah saat ini mendapatkan sorotan pasalnya kawasan Lacokkong yang sudah masuk dalam binaan nyatanya belum jauh dari peredaran narkoba.

Kamis 11 November 2019 lalu, Polda Sulsel berhasil mengamankan dua bandar di daerah ini, sebelumnya juga terjadi pada 24 April lalu.  Label kawasan anti-narkoba pun menjadi pertanyaan besar bagi masyarkat, lokasi yang sudah dijadikan desa binaan nyata-nyatanya jebol.

Kini upaya pemberantasan narkoba di Kabupaten Bone, semakin menjadi tanya, visi pemerintah menjadikan  “Bone Sehat” belum menyadarkan betapa berbahanya narkoba.

Tinggal menunggu upaya serius lagi untuk menjauhkan peredaran barang ini sehingga tidak memakan banyak korban lagi. Agar visi yang dimaksud bukanlah hanya sekadar isapan jempol belaka.

Beri tanggapan